Senin, 29 Oktober 2007

Riwayat Hidup Gue


RIWAYAT HIDUP PENULIS



A. Masa Kanak-kanak
Penulis dilahirkan di Kampung Dalam, sebuah desa kecil dalam kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sawahlunto Sijunjung Sumatera Barat. Tepat pada hari sabtu jam 10.00 WIB pada tanggal 27 April 1980. Pada awalnya diberi nama Septian Aristos Niagara, kemudian karena adat orang kampung, bila anak nakal dan berkelakuan kurang baik berarti namanya tidak cocok padanya. Berhubung dengan hal tersebut maka namapun diganti menjadi Nolpitos Hendri.
Pada masa kanak-kanak, kehidupan penulis begitu menggembirakan. Penulis terbiasa bergembala sapi (lembu) bersama nenek, ke sawah dan tidak lupa bermain dengan teman sebaya. Bergembala adalah suatu pekerjaan yang sangat menyenangkan dan menggembirakan dan ke sawah juga tidak lebih menyenangkan.
Kegiatan itu dilakukan pada siang hari, sedangkan pada malam hari penulis pergi mengaji ke surau bersama teman-teman. Awal mengaji penulis belajar dengan Juz Amma, kemudian setelah menamatkan Juz Amma baru melanjutkan mengaji Al Quran Karim. Penulis menamatkan Al Quran (katam quran) pada umur dua belas tahun tepatnya pada waktu penulis berada di kelas lima Sekolah Dasar. Dalam katam quran ini penulis bersama lima belas orang teman lainnya.

B. Masa Sekolah
Penulis masuk Sekolah Dasar pada tahun 1987, lebih berumur dari tujuh tahun, untuk itu tanggal lahir penulis dimajukan menjadi tanggal 07 Juli 1980 supaya tepat berumur tujuh tahun masuk di Sekolah Dasar 35 Desa Kampung Dalam. Pada masa Sekolah Dasar ini penulis lebih suka belajar matematika, membaca dan agama. Peringkat yang penulis dapat memang tidak begitu menggembirakan. Selama berada di Sekolah Dasar hanya dua kali mendapat juara dua, selebihnya hanya mendapat sepuluh besar. Pada kelas lima, penulis tertunjuk untuk mewakili desa Kampung Dalam dalam MTQ Kecamatan Lubuk Tarok di bidang Ceramah Agama tingkat anak-anak. Alhamdulillah pada perlombaan ini penulis mendapat juara I. Pada akhir di Sekolah Dasar penulis hanya mendapat Nilai Ebtanas Murni (NEM) tiga puluh tiga koma tiga lima (33,35).
Setelah menamatkan Sekolah Dasar penulis melanjutkan sekolah ke Madrasah Tsanawiyah di Palangki. Pada masa ini penulis tidak banyak menggapai prestasi yang gemilang. Itu mungkin disebabkan pergaulan penulis dengan anak-anak kampung tersebut yang sering bermain dan bolos sekolah. Pada waktu panulis berada di kelas dua, penulis mendapat kesempatan untuk ikut dalam lomba lari jarak 10 KM yang diadakan oleh Radio Salju Muaro Sijunjung. Dalam perlombaan ini penulis hanya mendapat juara II. Pada akhir di Madrasah Tsanawiyah ini penulis mendapat Nilai Ebtanas Murni dua puluh delapan koma dua tujuh (28,07).
Dari Madrasah Tsanawiyah ini penulis melanjutkan ke Madrasah Aliyah juga di Palangki. Suasana di sekolah ini tidak jauh berbeda dengan suasana sebelumnya. Jaraknya hanya sepuluh meter saja, yang hanya dibatasi pagar kawat dan selokan. Di sekolah ini penulis suka berteman dengan orang-orang yang pintar. Kembali pada waktu kelas tiga Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), penulis diberi kesempatan kembali untuk mewakili sekolah dalam perlombaan lari jarak 10 KM yang diadakan oleh Radio Salju Muaro Sijunjung. Dalam perlombaan ini penulis dianugerahi juara I dari empat puluh lima orang peserta. Pada kelas tiga, penulis mengambil jurusan IPA (ilmu pengetahuan alam), dan tamat dengan nilai NEM (nilai ebtanas murni) tiga puluh tujuh koma tiga lima (37,35).

C. Masa-masa jadi Mahasiswa
Baru tamat di Madrasah Aliyah, bapak penulis dinobatkan menjadi datuk dengan gelar Bagindo Rajo. Maka pada saat penobatan itu penulis diberi gelar pula dengan gelar Gorak Alam. Karena adat di Ranah Minang, seorang anak laki-laki kalau sudah besar harus diberi gelar sebagaimana kata pepatah “Ketek banamo gadang bagala”. Maka penulis di kampung dipanggil dengan gelar Gorak Alam, walau kadang orang juga memanggil nama. Dengan demikian, penulis memberikan singkatan gelar dibelakang nama penulis dengan singkatan GA.
Pada waktu berada di kelas III Madrasah Aliyah mengikuti seleksi PMDK salah satu perguruan tinggi Islam yaitu IAIN Imam Bonjol Padang. Dengan rahmat Tuhan yang maha kuasa, penulis dinyatakan lulus dalam seleksi. Dengan hal itu penulis diizinkan oleh orang tua untuk melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi. Di Perguruan Tinggi ini penulis mengambil Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam pada Fakultas Adab.
Awal perkuliahan di sini diawalai dengan OSPEK (Orientasi Pengenalan Kampus). Salah satu program Badan Eksekutif Mahasiswa Institut yang bekerja sama dengan Rektor serta seleruh Dekan di lingkungan IAIN Imam Bonjol Padang. OSPEK ini di adakan pada bulan Agustus tahun 1999. Dalam masa OSPEK ini berbagai kegiatan, pergenalan organisasi diadakan, baik itu kegiatan intra maupun ekstra, organisasi intra maupun ekstra, UKK, UKM dan sebagainya. Selama pelaksanaan OSPEK tersebut penulis tertarik kepada sebuah organisasi yang begitu populer dan akslusif di kalangan mahasiswa yaitu Resimen Mahasiswa (MENWA).
Masa OSPEK pun berlalu, perkuliahan pun di mulai. Satu tahun perkuliahan di mulai, Resimen Mahasiswa membuka kesempatan bagi mahasiswa baru untuk mendaftar sebagai Camen (calon menwa). Maka tanpa pikir panjang, penulis pun mendaftar sebelum terlebih dahulu melengkapi syarat-syaratnya. Hari-hari pun berlalu dan sampailah pada waktunya tes. Tes pun berjalan dengan lancar dan saatnya menunggu hasil. Tidak lama waktu berselang, hasil tes pun di umumkan dan penulis dinyatakan lulus sebagai camen.
Pada bulan Agustus 2001, waktunya untuk Pendidikan Dasar Militer (Diksarmil), yang diadakan di Secata B Padang Panjang selama tiga minggu. Dalam Diksarmil tersebut, berbagai kegiatan diajarkan kepada Camen, mulai dari bongkar pasang senjata, sampai taktik tempur gelirya, mulai dari baris berbaris sampai turun naik tali (Snepring), mulai dari pus up sampai beladiri militer. Sekembalinya dari Diksarmil ini, Camen sudah dinyatakan sebagai anggota Resimen Mahasiswa Satuan 103 Mahasakti IAIN Imam Bonjol Padang khususnya, Resimen Maharuyung Sumatera Barat umumnya. Pernyataan diterima sebagai anggota ini ditandai dengan pemakaian Baret Ungu (Baret Resimen). Sebelum itu diadakan acara pengambilan baret pada malam hari dengan melalui beberapa rintangan dan ketangkasan medan serta kekuatan fisik.
Demi tercapainya sebuah cita-cita maka anggota baru dituntut untuk mengembangkan apa-apa yang telah didapat selama pendidikan tersebut. Terutama dalam bidang beladiri, untuk itu seluruh anggota baru diwajibkan untuk belajar beladiri pada UKM Beladiri Tarung Derajat Satlat 07 IAIN Imam Bonjol Padang. Selain dari itu, untuk mengembangkan cakrawala berfikir, maka penulis memasuki sebuah organisasi ekstra yaitu HMI (Himpunan Mahasiswa Islam).
Dua tahun berselang, kegiatan demi kegiatan penulis ikuti, baik dalam Resimen Mahasiswa, Tarung Derajat maupun di HMI. Pada tahun 2003 bulan Februari, penulis mengikuti sebuah ivens tingkat regional yaitu Kejuaraan Antar Satlat Se-Sumatera Keluarga Olahraga Tarung Derajat (KODRAT) yang diadakan di GOR Universitas Andalas Padang. Pada kejuaraan ini penulis belum meraih prestasi.
Pada ivens selanjutnya di Kota Bukittinggi yaitu Kejurda Fordekok I Keluarga Olahraga Tarung Derajat, penulis kembali ikut mewakili Kota Solok pada kelas yang sama. Kejurda ini diangkat oleh Pengcab Kota Bukittinggi di GOR Bukit Ngarai pada tahun Juli 2003. Pada ivens ini penulis mendapatkan Mendali Perak setelah menghadapi petarung dari Payakumbuh pada final. Kemudian ivens selanjutnya yang penulis ikuti adalah Porda IX di Kabupaten Solok pada Februari 2004. Pada ivens ini penulis menyumbangkan Mendali Perunggu untuk Kabupaten Padang Pariaman setelah menghadapi petarung dari Kota Payakumbuh pada Semi Final. Evens yang terakhir kali penulis ikuti adalah Porprov X Sumbar yang diadakan di Muaro Sijunjung. Pada evens ini penulis mewakili Kota Pariaman, namun penulis tidak bisa menyumbangkan mendali karena cedera kaki.

D. Prinsip-prinsip Hidup dan Pemikiran Penulis tentang Puisi dan Kata-kata Mutiara
1. Prinsip Hidup
Dalam hidup dan kehidupan, manusia mempunyai basik sendiri-sendiri yang dijadikan motivasi. Baik itu berupa prinsip maupun itu berupa seseorang. Sebuah prinsip bisa membuat seseorang menjadi orang sukses dan berhasil dalam mencapai cita-cita untuk masa depannya. Keberadaan seseorang disampingnya juga bisa membuat seseorang itu berhasil mencapai cita-citanya. Karena sebuah prinsip adalah sebuah dasar dalam bertindak dan berbuat untuk mencapai sebuah tujuan dan cita-cita.
Begitu juga penulis, dalam hidup dan kehidupan serta dalam mencapai cita-cita dan suatu tujuan memegang sebuah kata dari Mantan Presiden Repoblik Indonesia yang pertama yaitu Seokarno, beliau berkata : “ Dalam menjalani persoalan kehidupan kita harus berani hidup jangan berani mati, tapi dalam berjuang kita harus berani mati demi ibu pertiwi dan kemerdekaan bukan berani hidup tapi dijajah”. Dalam ungkapan tersebut terkandung sebuah makna bahwa kita harus berjuang, berjuang dan berjuang untuk mencapai tujuan dan cita-cita. Dan kita berjuang bukan untuk putus asa, tetapi untuk mencapai keberhasilan dan cita-cita yang kita impikan.
Selain itu penulis juga mencangkok seutas perkataan dari Thomas Alfa Adison si penemu listrik dan bola lampu, yaitu : “ Trial and error (mencoba dan gagal)”. Karna dalam kehidupan, kita tidak akan bisa berbuat sesuatu kalau kita tidak mencoba. Kita tidak akan bisa bermain bola kalau kita tidak mencoba, kita tidak akan bisa membaca kalau kita tidak mencobanya, hal ini seperti yang dilakukan oleh Thomas dalam percobaannya yang mencapai sembilan ribu kali. Dari hal ini kita bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa kita tidak boleh putus asa dan kita harus mencoba untuk mengetahui kita bisa atau tidak.

1 komentar:

ParentingSkul mengatakan...

Aneh sejak kecil Islam, kampusnya Islam, calon istrinya pakai jilbab, tapi semua posting arsip2nya hal-hal seropok dan porno.

Atau memang kualitas orang Islam memang begini????

Dasar!!